Rising Awareness For Mental Issues from AYU RIZKIYANI
Rising
Awareness For Mental Issues
"Artikel ini berisi sebuah pengalaman hidup yang ditulis langsung oleh orangnya yaitu seseorang yang bernama AYU RIZKIYANI, dia adalah seorang mahasiswi, dimana dia ingin semua orang tau bagaimana Rising Awareness For Mental Issues yang telah dia lewati. maka baca secara seksama yaa"
Allah telah memberi kita
86.400 detik sehari sudahkah kita menggunakannya 1 untuk bersyukur??
Terkadang bahkan sering
kali kita lupa untuk sekedar mengucap kalimat tahmid sebagai wujud syukur kita
kepada Allah SWT. Bersyukur atas keluarga yang selalu ada disekeliling kita,
teman dan sahabat yang selalu mendampingi, Udara yang masih bisa kita hirup
sampai detik ini, masalah yang kita hadapi, mata, tangan, kaki, hati serta
semua yang ada pada diri kita, semua itu perlu kita syukuri, tidak ada manusia
yang lepas dari masalah, “Problems are making our self, logic, and heart
stronger. Trust me!” dan insya allah mendewasakan.
Aku penderita depresi yang
bisa sampai berminggu - minggu tidak makan, yang bisa tiba - tiba rasanya ingin
menangis entah apa sebabnya yang jelas hati merasa tak tenang. Apa aku kurang
beribadah? Apa aku tidak beribadah?. Tidak!! Aku sholat, aku ngaji, aku curhat
kepada tuhanku. Apa aku gak inget dosa? Gak meyakini ketentuan tuhan? TIDAK!!
Aku tau aturan dalam agama. Lalu mengapa aku dapat depresi? Ya tentu ada
penyebabnya dan itu bukan ibadah. Mari sama - sama belajar, penyakit kejiwaan
itu benar - benar ada selain “Gila”, gak pandang ras, gender, umur, atau apapun
itu. Dan itu butuh diobati bukan untuk dicaci, bukan untuk dijudge, hanya butuh
didengarkan dan diterima, tidak butuh stigma dan label negative dan semoga
kalian dan orang-orang sekitar tidak perlu merasakan lelahnya menjadi penderita
penyakit - penyakit psikis, be understood please fellas!.
Menurutku it’s okay to say
that you are not okay. Jangan takut dibilang lemah, manja, payah atau apapun
stigma negative lainnya, hal – hal seperti itu adalah sifat manusiawi, karna
kita punya perasaan. Mungkin mereka belum merasakan apa yang kita rasa, atau
bahkan mereka memang tak memiliki perasaan. Allah maha membolak balikan
keadaan, maybe sometimes mereka bisa saja berada diposisi kita.
Banyak yang beranggapan
kalo sakit itu hanya sakit fisik, mereka tidak peduli terhadap mental issues,
padahal sama pentingnya. Sejak memahami hal ini, dari setiap peristiwa yang
terjadi atas diriku, aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untuk teman
- temanku yang sedang dalam masalah dan aku mencoba mengerti cerita - cerita mereka,
walaupun sebaliknya mereka tidak seperti itu terhadap diriku. But guys don’t be
like that, if you realizing that some thing might be happening to you, how your
feeling? It’s not good to go through the pain alone, you need someone to lean
on, to hold on, but to all the people who’s currently understand you well, true
friend will understand. Walau mungkin akan sulit menemukan orang yang tepat
untuk berbagi cerita, pengalaman, dsb.
Terkadang memang
orang-orang sekarang kurang paham sama apa yang orang lain rasakan, bahkan terkadang
sesuatu yang terjadi didepan matapun orang - orang enggan dan berpikir dua kali
untuk menolong, apalagi yang tidak terlintas dimata mereka. Memang harus butuh
teman terdekat yang tau latar belakang kita. Teman sejati atau lebih trennya sahabat,
mereka adalah keluarga yang bisa kita tentukan sendiri. Boleh jadi sebagian
orang hanya penasaran atau bahkan memanfaatkan dan bukan benar-benar peduli
terhadap kita.
Adakah teman yang kamu
percaya? Sahabat? Pacar? Atau bahkan kenalan? Yaa intinya orang - orang yang
tidak self-centered? Minta tolonglah kepadanya untuk mendengarkan ceritamu,
orang itu adalah orang yang menurutmu cukup mengerti dirimu. Jangan sesekali
curhat kepada orang yang aku-sentris! Karna setiap kamu cerita dia akan
menimpali “kalau aku.. blaa..bla..bla..” hal itu tidak menjadi masalah jika
memang kamu nyaman akan tetapi ada beberapa orang yang merasa kurang nyaman
lalu merasa dibanding - bandingkan dengan hal itu. cause every person never
have a same story, tidak seorang pun pernah melihat dengan tepat yang pernah kamu
lihat, tidak seorangpun pernah merasakan dengan tepat apa yang pernah kamu
rasakan, karna hanya isi kepala yang tahu persis bagaimana bentuk rupa isi hati
sendiri. Mengapa tidak cerita ke tuhan saja? Bukan maksud mengkesampingkan
tuhan, tapi terkadang kita merasa cerita kepada tuhan belum cukup untuk
mendapatkan kata - kata yang reassuring dan ingin mendapat jawaban langsung,
mungkin dari tuhan lewat dia kita mendapat solusi untuk masalah kita.
semoga bermanfaat ya, terimakasih telah berkunjung
semoga bermanfaat ya, terimakasih telah berkunjung
Komentar
Posting Komentar